Aku kali ini bakal nyeritain pengalaman yang gak
meng-enak-an waktu kelas 11 SMA. Aku kena Demam Berdarah pas di minggu ujian
semester. What the~~~!!!
Maka aku pun harus di rawat di RSUD selama kurang lebih 5
hari 4 malam. Awal masuk RS itu karna aku dirujuk dari klinik dekat rumahku,
soalnya waktu mantrinya mau ambil sampel darahku, darahku gak bisa diambil pake
tu suntikan, katanya udah mengental. Oh mengapa.. :’(
Maka aku pun segera dilarikan eh gak lari kok, dibonceng pake
motor menuju RSUD . Nyampe RS masuk UGD, langsung ditanya keluhannya apa dan
langsung diinfus. Dan proses meng-infus aku itu gak segampang yang kalian
pikirkan, karna aku mesti dipegangi biar gak berontak, ya aku gak mau kena
jarum suntik lagi. Aku dicurigai kena DB. Maka selain diinfus, aku juga ketemu
jarum lagi, ya aku disuntik lagi buat ambil sampel darahku. Gak cukup sampai
disitu. Tiba-tiba lengan kananku pun ditusuk jarum dengan kasarnya dan
dibiarkan darahnya keluar membentuk kubangan dengan bentuk abstrak dilenganku, terus
daerah yang ditusuk jarum itu dilingkarin pulpen. Dan aku gak ngerti itu apa
tujuannya. Beberapa saat setelah diinfus aku merasa tangan kananku nyeri tepat
dibagian yang diinfus. Tiba-tiba dokter di ugd itu menghampiri aku lagi dan
mengangkat tangan kananku. Mataku pun akhirnya tertuju ke tempat infuse itu
menancap, betapa kagetnya aku ternyata darah mengalir dari tempat infus itu
tertancap, dan tanganku sudah berlumuran darah seperti psikopat yang baru saja
menghabisi nyawa korbannya :P . padahal itu darahku sendiri. Hahahaha. (apa
sih?). Dan ternyata saat tanganku
diangkat itu sudah ada kubangan darah segar di bagian kasur yg tadi menjadi
tempat tanganku terkulai. Doh! Kok bisa gitu darah ngucur-ngucur dari situ.
Emang nginfusnya gak bener? apa tubuhku yang udah gak bener dan udah seenaknya
ngluarin darah segitu banyak lewat tusukkan selang infus?
Aku dibilang masuk fase kritis. Waktu itu kadar trombosit
dalam darahku Cuma sekitar 18.000 butir per millimeter kubik darah, sedangkan
normalnya kadar trombosit dalam darah itu min 150.000 butir per millimeter kubik darah .
Dokter pun memberitahu orang tuaku jika sampai besok trombositku gak naik, maka
aku harus dirujuk ke RS di semarang untuk mendapatkan donor …… serem juga nih dokter ancamannya menurutku. Hehehe.
Dan sepanjang malam aku tidur gak nyenyak banget. Badan rasanya gak enak semua.
Dada rasanya sesak, perut sakit, badan pegel-pegel gak karuan. Tapi yang paling
sakit itu terasa di bagian perut dan dada. Rasa sakit yang luar biasa itu bikin
aku nyerah dan pasrah. Karna rasanya aku udah gak bisa nahan sakit di tubuhku
ini. Tapi Alhamdulillah, ternyata tubuhku bisa bertahan melebihi pikiranku.
besoknya aku temukan semangat lagi untuk sembuh setelah melihat orang tuaku dan teman-teman yang menjengukku. Aku merasa banyak yang sayang aku… aku masih pengen lebih banyak waktu sama mereka… dan Allah pun menjawab keinginanku.
besoknya aku temukan semangat lagi untuk sembuh setelah melihat orang tuaku dan teman-teman yang menjengukku. Aku merasa banyak yang sayang aku… aku masih pengen lebih banyak waktu sama mereka… dan Allah pun menjawab keinginanku.
Hari kedua di rumah sakit… Waktu itu ada tetanggaku yang
jenguk aku, dia menyarankan aku buat minum sari kurma. Itu karna anaknya baru
sembuh juga dari DBD dan setelah minum sari kurma, trombosit anaknya meningkat.
Maka bapak pun pergi ke swalayan 24 jam buat beli sari kurma. Sari kurma ini
rasanya manis persis madu.
Hari ketiga di rumah sakit aku dipindahkan ke kamar vip, yang sebelumnya aku menempati kamar ekonomi kelas satu. Orang tua memindahkanku ke ruang yang lebih bagus tujuaannya agar aku bisa beristirahat dengan lebih nyaman agar bisa cepat sembuh.
Hari ketiga di rumah sakit aku dipindahkan ke kamar vip, yang sebelumnya aku menempati kamar ekonomi kelas satu. Orang tua memindahkanku ke ruang yang lebih bagus tujuaannya agar aku bisa beristirahat dengan lebih nyaman agar bisa cepat sembuh.
Hari keempat, aku
mulai nafsu makan. Tapi sialnya sehabis makan aku malah muntah-muntah. Jadi keluarlah
semua yang aku makan. Tapi aku tetep harus makan biar membantu penyembuhan. Dan
satu-satunya makanan yang mampu membangkitkan selera makanku tanpa bikin muntah
adalah nasi urap yang dibawa bulekku. Heheheh. Beberapa hari kemaren dibawain segala makanan
kesukaanku mulai dari pempek sampe kentang tumbuk, tapi akhirnya malah paling
lahap makan nasi urap yang seharusnya jadi sarapan bulekku. Hehehehe.
Hari kelima, pagi-pagi sekitar pukul 08.00 waktu hpku,
dokter memeriksaku, dan sebelumnya sudah ada analis yang mengambil sampel
darahku. Katanya kadar trombosit dalam darahku sudah normal, dan kondisi
tubuhku sudah cukup baik. Maka, aku diperbolehkan pulang siang ini. Yeaiy!! :D
Sekitar jam setengah 2 siang, seorang perawat masuk ke kamarku untuk melepas selang infuse yang menancap di tanganku. Setelah selang itu dicabut, aku merasa lega.. bebas. Hehehehe. Sekitar jam 2 aku pulang ke rumah dan langsung mandi keramas. Maklum udah hamper 10 hari gak mandi. Hehehehe.
Sekitar jam setengah 2 siang, seorang perawat masuk ke kamarku untuk melepas selang infuse yang menancap di tanganku. Setelah selang itu dicabut, aku merasa lega.. bebas. Hehehehe. Sekitar jam 2 aku pulang ke rumah dan langsung mandi keramas. Maklum udah hamper 10 hari gak mandi. Hehehehe.
Dari pengalaman itu.. aku jadi belajar buat menghargai
kesehatan dan menjaga tubuhku. Sakit itu gak enak. Dan kesehatan itu merupakan
anugerah luar biasa dari Allah yang kadang lupa kita syukuri dan bari kita
sadari saat kita sakit….